fbpx

Newsletter Mokshfeast Edisi No 07/MF2/2019

Topeng Malangan

Hiburan Untuk Para Raja yang Mendunia

Sejak abad ke 8, tari topeng Malangan telah berkembang pesat sebagai hiburan dan ritual religius para raja di masa kerajaan Kanjuruhan. Pada masa raja Gajayana, topeng terbuat dari emas dan dikenal dengan istilah Puspo Sariro, yang berarti bunga dari hati yang paling dalam.

Berdasarkan prasasti-prasasti yang telah ditemukan, dinyatakan bahwa pada masa pemerintahan raja Gajayana yang dimulai pada abad ke 8 masehi, topeng sudah dikenal luas di Malang. Kala itu tari topeng menjadi media ritual para raja untuk memanggil roh leluhur. Kemudian pada masa Majapahit tari topeng (khususnya di Malang) menjadi tontonan yang menghibur bagi rakyat dan rajanya.

Kisah yang sering diangkat pada pementasan tari topeng Malangan adalah kisah cinta Panji Asmoro Bangun dan Dewi Sekartaji, yang tidak hanya romantis melebihi kisah Romeo dan Juliet, namun juga heroik dan penuh petualangan.

Topeng Malangan memiliki ciri-ciri tersendiri. Ciri khas terletak pada pemaknaan bentuk hidung, mata, bibir, warna topeng dan ukirannya. Untuk warna, topeng malang memiliki 5 warna dasar, yaitu merah, putih, hijau, kuning dan hitam. Dimana masing masing warna berfungsi sebagai simbol dari karakter topeng atau tokoh yang diperankannya.

Putih mewakili sifat jujur, suci dan berbudi luhur. Kuning menggambarkan kemuliaan. Hijau menggambarkan watak kedamaian. Merah menggambarkan angkara murka, licik atau bisa juga keberanian. Hitam menggambarkan kebijaksanaan.

Ukiran atau ragam hias pada topeng Malang, biasanya berupa Urna di bagian kening, Melati, Kantil, Teratai Jamang, pada bagian dahi dan Irah-irahan atau tutup kepala yang mewakili sifat kebangsawanan.

Topeng Malangan: Panji Asmoro Bangun

Padepokan Panji Asmorobangun

Satu-satunya daerah yang saat ini masih konsisten melestarikan budaya topeng Malangan adalah Padepokan Panji Asmoro Bangun. Padepokan yang berada di desa Kedungmonggo, Pakisaji kabupaten Malang ini, tak hanya dikenal sebagai produsen topeng Malangan namun juga masih konsisten melahirkan generasi-generasi baru penari topeng.

Padepokan ini bahkan dianggap sebagai padepokan topeng tertua di Malang, mengingat telah ada sejak jaman kolonial Belanda. Sebagai duta seni, kiprahnya bahkan telah menembus Eropa dan Amerika sekaligus mengukuhkan pengakuan internasional sebagai kesenian lokal yang tetap mempertahankan ciri khasnya. Bahkan tiap bulan Agustus, padepokan ini selalu ramai dengan turis asing yang sekedar berkunjung atau belajar langsung membuat topeng dan menari.

Mbah Karimoen adalah tokoh di balik nama besar padepokan Panji Asmoro Bangun. Berkat tangan dinginnya, kesenian asli Malang ini terus tumbuh dan saat ini dilanjutkan oleh cucunya, Suroso dan Tri Handoyo. Hampir setiap hari selalu ada aktivitas di sanggar untuk membuat topeng Malangan. Setiap satu bulan sekali, tepatnya malam Senin Legi, rutin digelar pertunjukkan wayang topeng Malangan.

Padepokan Panji Asmoro Bangun bakal turut mengisi ruang kesenian di Mokshfeast 2019. Selain mempertunjukkan tarian topeng yang legendaris itu, padepokan ini juga hadir di creative market. Tunggu apalagi, pesan sekarang tiketnya, secara online di www.mokshfeast.com (*)


0 Comments

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

WhatsApp Ask via WhatsApp